Di Sudut Kota
Senja datang lagi menyinari ku di sudut kota. Berbinar jingganya yang kemerahan beradu dengan hiruk-pikuk suara kendaraan yang melintasi jalanan kota. Terbentang khayal dalam angan yang gusar mencari keberadaan cinta yang hilang bertahun lamanya. Tiada kabar burung atau pun kehangatannya.
Waktu berselang sangat singkat, jingga di langit biru itu hilang di tengah terbitnya rembulan. Aku tetap melangkah menyusuri sudut kota yang ramai. Keramaian di sini tak lantas membuat hati berpancar bahagia hanya resah dan cemas yang ku rasa. Sedang aku menunggunya dalam alunan dawai gitar yang setia menemani kesendirianku di sini.
Ah, Tuhan dimana jutaan cinta yang temani ku seperti dulu. Kadang aku mulai rapuh untuk mengharapkannya. Namun, hati ini seolah tak bisa melepaskannya begitu saja. sebab janji yang dulu telah mengikatku untuk tetap selalu setia menantinya sampai ia datang mendekapku seperti sedia kala.
Senyuman itu , kata sayang itu, wajah elok itu, dan segalanya. Aku tetap rindu, rindu ku masih sama seperti dulu. Saat ia meninggalkan ku mencari kehidupan yang lebih layak di perantauan. Namun, dua tahun lamanya tak pernah sedikitpun ia datang untuk melepas dahaga cintaku. Dimana ia? Apakah di sana dia baik-baik saja atau dia telah menemukan penggantiku? Hanya segelincir do'a di tengah sujudku, berharap ia datang dan menepati janjinya.
Di sini di sudut kota yang menjadi saksi bisu tetap ku nanti dirimu. Walau asa berselimut debu dan fatamorgana terhasut sunyi. Biarlah aku termakan oleh waktu, namun cintaku padamu tetap akan berlabuh dalam nahkoda cintamu. Sampai nanti, sampai tangan Tuhan mempertemukan aku dan kamu dalam keadaan tak bernyawa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar